
Berbicara
tentang kisah keteladanan para ulama Salaf dalam ketekunan beribadah,
ketaatan dan sifat zuhud, tentu merupakan pembicaraan yang tidak asing
bahkan sangat dikenal di kalangan kaum muslimin.
Akan tetapi, tahukah
kita bahwa kisah keteladanan dari anggota keluarga mereka juga tidak
kalah menariknya dan sangat patut untuk kita baca serta renungkan?
Sebagai bukti bahwa
para ulama Salaf tidak hanya memperhatikan dan mengusahakan kebaikan
untuk diri mereka sendiri saja, tapi mereka juga sangat memperhatikan
pengajaran dan bimbingan kebaikan bagi anggota keluarga mereka.
Mereka benar-benar memahami dan mengamalkan firman Allah Ta’ala:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).
Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, ketika menafsirkan ayat di atas berkata: “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu”1.
Juga hadits-hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Ada
tiga orang yang akan mendapatkan dua pahala: … dan seorang laki-laki
yang memiliki budak perempuan, lalu dia mendidiknya dengan pendidikan
yang baik dan mengajarkan (ilmu agama) kepadanya dengan pengajaran yang
baik, kemudian dia memerdekakannya dan menikahinya, maka dia kan
mendapatkan dua pahala”2.
Kalau keutamaan ini
didapatkan dengan mengajarkan dan memberikan bimbingan kebaikan kepada
seorang budak, maka tentu saja mengusahakan ini kepada anggota keluarga,
anak dan istri, akan mendatangkan keutamaan yang lebih besar lagi3.
Dalam tulisan ini,
kami akan membawakan beberapa kisah keteladanan para keluarga Salaf
dalam memahami dan mengamalkan agama ini, semoga bisa menjadi motivasi
kebaikan bagi anggota keluarga muslim dalam meniti jalan hidup menuju
keridhaan Allah Ta’ala.
Semoga Allah Ta’ala merahmati Imam Abu Hanifah yang pernah berkata: “Kisah-kisah (keteladanan) para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai daripada kebanyakan (masalah-masalah) fikih, karena kisah-kisah tersebut (berisi) adab dan tingkah laku mereka (untuk diteladani)”4.
Keteladanan keluarga Salaf dalam berkorban di jalan Allah Ta’ala dan membela kebenaran
Imam adz-Dzahabi menukil kisah tentang Imam ‘Ashim bin ‘Ali al-Wasithy5, di jaman fitnah khalqul Qur’an6,
ketika itu Imam Ahmad bin Hambal ditangkap dan disiksa oleh penguasa
karena beliau mempertahankan aqidah Ahlus sunnah, bahwa al-Qur’an adalah
firman Allah Ta’ala dan bukan
makhluk. Maka ‘Ashim bin ‘Ali al-Washithy berkata di hadapan para ulama
Ahlus sunnah lainnya: “Adakah seorang yang mau berdiri bersamaku untuk
bersama-sama kita datangi orang ini (khalifah al-Ma’mun) dan
menasehatinya (agar meninggalkan perbuatan buruk tersebut)?”. Ketika
itu, tidak ada seorangpun yang memenuhi ajakannya, lalu kemudian Ibrahim
bin Abi al-Laits berkata: “Wahai Abul Hasan (‘Ashim bin ‘Ali), aku
pulang dulu menemui anak-anakku untuk memberi wasiat kepada mereka
(sebelum pergi bersamamu)”. Lalu kemudian Ibrahim bin Abi al-Laits
datang dan berkata (kepada kami): “Aku pulang menemui anak-anakku dan
mereka menangis (karena takut aku akan disiksa atau dibunuh)”. Pada
waktu itu, datang sepucuk surat dari dua putri Imam ‘Ashim bin ‘Ali dari
kota Wasith (yang isinya): “Wahai ayah kami, sungguh telah sampai
kepada kami (berita) bahwa orang ini (khalifah al-Ma’mun) telah
menangkap dan memukul (menyiksa) Imam Ahmad bin Hambal supaya mau
mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Maka (wahai ayah kami),
bertakwalah kepada Allah dan janganlah mengikuti khalifah itu (dalam
pendapatnya yang sesat itu). Demi Allah, sungguh jika datang kepada kami
berita tentang kematianmu, ini lebih kami sukai daripada berita bahwa
engkau mengikutinya (dalam pendapatnya yang sesat itu)”7.
Lihatlah teladan agung dalam berkorban di jalan Allah Ta’ala dan membela aqidah Ahlus sunnah dalam kisah di atas!
Para keluarga Salaf
telah terdidik untuk mengagungkan dan mengutamakan kebenaran, apalagi
yang berhubungan dengan iman dan keyakinan tentang kemahasempurnaan
nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala,
bahkan mereka meyakini ini semua lebih berharga daripada apapun yang
paling mereka cintai di dunia ini, termasuk harta benda maupun anggota
keluarga yang terdekat. Mereka benar-benar memahami makna al-wala’ wal bara’ (cinta dan benci karena Allah Ta’ala) yang Allah Ta’ala nyatakan dalam firman-Nya:
{لا تَجِدُ
قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ
حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ
أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ
الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي
مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ
الْمُفْلِحُونَ}
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum
yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang
dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka
itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara ataupun keluarga mereka.
Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam
hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya, dan Dia
menempatkan mereka di dalam surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan
merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah
golongan Allah. Ketahuilah sesungguhnya golongan Allah itulah golongan
yang beruntung” (QS al-Mujaadilah: 22).
Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat ini berkata: “…Seorang
hamba tidak akan menjadi seorang yang beriman kepada Allah dan hari
akhirat dengan (keimanan) yang sebenarnya kecuali setelah dia
mengamalkan kandungan dan konsekuensi imannya,
yaitu mencintai dan berloyalitas kepada orang-orang yang beriman
(kepada Allah), serta membenci dan memusuhi orang-orang yang tidak
beriman, meskipun mereka orang yang terdekat hubungannya dengannya”8.
Keteladanan keluarga Salaf dalam menjauhi sifat rakus terhadap harta meskipun dalam keadaan miskin dan kekurangan
Imam Ibnul Jauzi
menukil kisah dari jaman para Salaf, tentang seorang lelaki dari Bagdad
yang bernama ‘Abdullah, dia akan melakukan ibadah haji dan membawa
titipan uang sepuluh ribu dirham dari pamannya yang berpesan kepadanya:
“Jika kamu telah sampai di kota Madinah, maka carilah keluarga yang
paling miskin di sana, lalu berikanlah uang ini kepada mereka (sebagai
sedekah)”. Abdullah berkata: Ketika aku telah sampai di Madinah, maka
aku bertanya (kepada orang lain) tentang keluarga yang paling miskin di
Madinah. Lalu aku ditunjukkan sebuah rumah, maka (akupun mendatanginya),
kemudian aku mengetuk pintu dan seorang perempuan (dari dalam rumah)
menjawab ketukanku. Dia berkata: “Siapakah anda”, maka aku menjawab:
“Aku seorang yang datang dari Baghdad, aku dititipkan (uang sebesar)
sepuluh ribu dirham dan aku dipesan untuk menyerahkannya (sebagai
sedekah) kepada keluarga yang paling miskin di Madinah, dan orang-orang
telah menceritakan keadaan kalian kepadaku, maka ambillah uang ini!”.
Perempuan itu menjawab: “Wahai ‘Abdullah, orang yang menitipkan uang itu
kepadamu mensyaratkan keluarga yang paling miskin (di Madinah yang
berhak menerimanya), dan keluarga yang (tinggal) di depan (rumah) kami
lebih miskin daripada kami, (berikanlah uang itu pada mereka)!”. Akupun
meninggalkan rumah itu dan mendatangi rumah keluarga di depannya, lalu
aku mengetuk pintu dan seorang perempuan (dari dalam rumah) menjawab
ketukanku. Kemudian aku katakan padanya seperti yang aku katakan kepada
perempuan yang pertama. Maka perempuan itu menjawab: “Wahai ‘Abdullah,
kami dan tetangga kami itu sama-sama miskin, maka bagilah uang itu untuk
kami dan mereka”9.
Renungkanlah kisah di
atas! Mereka benar-benar menjaga diri dari sifat rakus dan tamak
terhadap harta, yang mana sifat inilah menjadikan seorang manusia selalu
berambisi mengumpulkannya meskipun dengan cara yang tidak halal dan
mengambil yang bukan haknya.
Mereka benar-benar memahami sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Demi
Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan (akan merusak agama)
kalian, akan tetapi yang aku takutkan bagi kalian adalah jika
(perhiasan) dunia dibentangkan (dijadikan berlimpah) bagi kalian
sebagaimana (perhiasan) dunia dibentangkan bagi umat (terdahulu) sebelum
kalian, maka kalianpun berambisi dan berlomba-lomba mengejar dunia
sebagaimana mereka berambisi dan berlomba-lomba mengejarnya, sehingga
(akibatnya) dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dunia membinasakan
mereka”10.
Arti sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam “…sehingga (akibatnya) dunia itu membinasakan kalian”, yaitu:
dunia menjerumuskan kalian ke dalam (jurang) kebinasaan, disebabkan
persaingan yang tidak sehat untuk mendapatkannya, kecintaan yang
berlebihan terhadapnya dan kesibukan dalam mengejarnya sehingga
melalaikan dari mengingat Allah Ta’ala dan balasan di akhirat11.
Kemudian, akhlak mulia yang mereka miliki ini juga melahirkan sifat mulia lainnya, yaitu al-iitsaar (mendahulukan saudara sesama muslim) dan rela berbagi bersamanya, meskipun dalam hal yang juga dibutuhkannya.
Sifat mulia ini yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman dan dipuji oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:
{وَالَّذِينَ
تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ
هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا
وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ}
“Dan orang-orang
yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum
(kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah
kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka
terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan
mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri,
sekalipun mereka membutuhkan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS al-Hasyr: 9).
Keteladanan keluarga Salaf dalam meninggalkan perbuatan maksiat sejak usia dini
Imam Abu Bakar al-Marwazi12
berkata: “Aku pernah datang ke rumah Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad bin
Hambal), maka aku melihat seorang wanita (tukang sisir) sedang menyisir
(rambut) anak perempuannya yang masih kecil. Setelah itu aku bertanya
kepada tukang sisir tersebut: Apakah kamu menyambung rambutnya dengan qaraamil13?
Maka tukang sisir itu berkata: Anak kecil itu menolak (dengan keras)
dan berkata: Sesunguhnya ayahku melarangku (melakukan itu) dan dia akan
marah (kalau aku melakukannya)14.
Lihatlah bagaimana pengaruh positif didikan sang ayah dari anak kecil ini dalam berpegang teguh dengan perintah Allah Ta’ala dan
meninggalkan larangan-Nya, dan tentu ini tidaklah mengherankan, karena
ayahnya adalah Imam besar Ahlus Sunnah, Imam Ahmad bin Hambal15.
Tentu beliau telah mengajarkan kepada putri kecilnya ini hadits riwayat ‘Aisyah radhiallahu’anha bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melaknat perempuan yang menyambung rambutnya dan perempuan yang meminta disambung rambutnya16.
Keteladanan keluarga Salaf dalam menghadiri majelis ilmu dan mengunjungi orang-orang yang shaleh sejak kecil, untuk meneladani akhlak mereka.
Imam Ibnul Jauzi membawakan sebuah kisah dari seorang ulama Salaf yang terkenal, Ibrahim al-Harbi17.
Dari Muqatil bin Muhammad al-‘Ataki, beliau berkata: Aku pernah hadir
bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim al-Harbi, maka
beliau bertanya kepada ayahku: “Mereka ini anak-anakmu?”. Ayahku menjawab: “Iya”. (Maka) beliau berkata (kepada ayahku): “Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka”18.
Imam Ibrahim bin Adham19
berkata: “(Ketika aku masih kecil) ayahku berkata kepadaku: Wahai
anakku, tuntutlah ilmu hadits, setiap kali kamu mendengar sebuah hadits
dan menghafalnya maka kamu dapat (uang) satu dirham”. Maka akupun
menuntut ilmu hadits karena motivasi itu”20.
Imam al-Khathib al-Bagdadi menukil kisah dari Imam al-A’masy21,
ketika beliau sedang menyampaikan hadits di hadapan anak-anak yang
masih kecil, maka ada yang bertanya kepada beliau: “Kamu menyampaikan
hadits di hadapan anak-anak yang masih kecil ini?”. Imam al-A’masy
berkata: “Anak-anak yang masih kecil inilah yang akan menjaga agamamu”22.
Renungkanlah kisah di
atas, bagaimana para ulama Salaf membiasakan anggota keluarga mereka,
sejak usia anak-anak, untuk selalu menghadiri majelis ilmu dan
kajian-kajian Islam untuk kebaikan agama mereka, serta bergaul dan
mengunjungi orang-orang yang shaleh dalam rangka meneladani akhlak mulia
mereka. Mereka memahami bahwa jiwa manusia memiliki kecenderungan untuk
selalu meniru dan mengikuti orang lain yang dikaguminya dan selalu
dekat dengannya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Ruh-ruh (jiwa)
manusia adalah kelompok yang selalu bersama, maka yang saling
bersesuaian di antara mereka akan saling dekat, dan yang tidak
bersesuaian akan saling berselisih”23.
Inilah salah satu di antara tujuan terbesar Allah Ta’ala menceritakan kisah-kisah keteladanan para Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam banyak ayat al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:
{وَكُلا
نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ
وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ}
“Dan semua kisah para rasul Kami
ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan
hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta
pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (QS Huud: 120).
Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi kebaikan bagi kita semua.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 28 Rabi’ul awwal 1436 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, Lc., MA.
Artikel Muslim.or.id
___
1
Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam “al-Mustadrak” (2/535), dishahihkan
oleh Imam al-Hakim sendiri dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi.
2 HSR al-Bukhari (1/48, no. 97).
3 Lihat kitab “Ma’aalimu fi thariiqi thalabil ‘ilmi” (hlmn 132).
4 Dinukil oleh imam Ibnu ‘Abdil Barr dengan sanadnya dalam kitab “Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi” (no. 595).
5 Biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (9/262).
6 Fitnah dari kelompok Mu’tazilah yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk dan bukan firman Allah Ta’ala,
mereka berhasil mempengaruhi khalifah dan para penguasa di jaman
tersebut, sehingga mereka menyiksa para ulama Ahlus sunnah yang tidak
mau mengucapkan keyakinan sesat dan kufur tersebut.
7 Kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (9/264).
8 Taisiirul Kariimir Rahman (hal. 623).
9 Kitab “Shifatush shafwah” (2/206).
10 HSR al-Bukhari (no. 2988) dan Muslim (no. 2961).
11 Lihat catatan kaki kitab “Shahiihul Bukhari” (3/1152).
12 Beliau adalah salah seorang murid utama Imam Ahmad bin Hambal, biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (13/173).
13 Penyambung rambut dari benang wol, bulu rambut atau lainnya (an-Nihaayatu fi gariibil hadiitsi wal atsar 4/80).
14 Dinukil oleh imam Ibnul Jauzi dalam “Mana-qibul imaami Ahmad” (hlmn 407).
15 Lihat kitab “Ma’aalimu fi thariiqi thalabil ‘ilmi” (hlmn 134).
16 HSR Muslim (no. 2123).
17
Beliau adalah Imam besar, penghafal hadits, Syaikhul Islam Ibrahim bin
Ishak bin Ibrahim bin Basyir al-Baghdadi al-Harbi (wafat 285 H).
Biografi beliau dalam “Siyaru a’alamin nubala‘” (13/356).
18 Kitab “Shifatush shafwah” (2/409).
19 Beliau adalah Imam besar dan panutan dari generasi Atba’ut tabi’in (wafat 162 H). Biografi beliau dalam “Siyaru a’alamin nubala‘” (7/387).
20 Dinukil oleh Imam al-Khathib al-Bagdadi dalam kitab “Syarafu ashhaabil hadiits” (hlmn 66).
21
Beliau adalah Sulaiman bin Mahran al-Kahili al-Kufi, Imam besar,
penghafal hadits, ahli qira-ah dan syaikhul Islam dari generasi Tabi’in yunior (wafat 147 H). Biografi beliau dalam “Siyaru a’alamin nubala‘” (6/226).
22 Kitab “Syarafu ashhaabil hadiits” (hlmn 64).
23 HSR al-Bukhari (no. 3158) dan Muslim (no. 2638).